Sunday, October 2, 2011

Konsep tentang Tuhan menurut Agama Katolik


Sesudah hari raya Pentakosta, Gereja Katolik merayakan pesta Tritunggal Mahakudus. Pesta itu merupakan rangkuman seluruh tahun liturgi. Dogma atau ajaran Gereja mengenai Allah Tritunggal merupakan rangkuman seluruh iman dan ajaran Kristen. Iman akan Allah Tritunggal bukanlah titik pangkal, melainkan kesimpulan dan rangkuman dari seluruh sejarah pewahyuan Allah, serta tanggapan iman manusia.
Inti pokok iman akan Allah Tritunggal ialah keyakinan bahwa Allah (Bapa) menyelamatkan manusia dalam Kristus (Putra) oleh Roh Kudus. Ajaran mengenai Allah Tritunggal pertama-tama bukan berbicara mengenai hidup Allah dalam diri-Nya sendiri, melainkan misteri Allah yang memberikan diri kepada manusia. Maka, mengenai Tritunggal Mahakudus ini sebaiknya tidak dimulai dengan rumus “satu Allah, tiga pribadi”, tetapi dengan pergumulan manusia dan Kitab Suci.
Tritunggal adalah satu. Kita tidak mengakui tiga Allah, tetapi satu Allah dalam tiga pribadi. “Tritunggal yang sehakikat”. Pribadi-pribadi ilahi tidak membagi-bagikan ke-Allah-an yang satu itu, Tritunggal Mahakudus sepenuhnya dan seluruhnya adalah Allah.
Ketiga Pribadi ilahi berbeda secara real satu dengan yang lain. Allah yang satu bukanlah “seakan-akan sendirian”. Allah tidak sendirian. “Bapa, Putra, dan Roh Kudus”, bukanlah hanya nama-nama yang menyatakan cara-cara berada yang berbeda dari hakikat ilahi, karena ketiga pribadi Ilahi itu secara real bebeda satu dengan yang lain: “Bapa yang melahirkan, Putra yang dilahirkan, dan Roh Kudus yang dihembuskan”. Kesatuan ilahi ini bersifat Tritunggal.
Ketiga Pribadi berhubungan satu dengan yang lain. Karena perbedaan real antarpribadi itu tidak membagi kesatuan ilahi, maka perbedaan itu hanya terdapat dalam hubungan timbal balik: Dengan nama-nama pribadi yang menyatakan hubungan, maka Bapa dihubungkan dengan Putra, Putra dihubungkan dengan Bapa, dan Roh Kudus dihubungkan keduanya. Walaupun mereka dinamakan tiga pribadi seturut hubungan mereka, namun mereka adalah satu hakikat. Demikianlah iman Kristiani.
Tritunggal bukan soal rumusan, tetapi soal iman, kekaguman, dan rasa syukur untuk karya Allah dalam hidup kita.
Secara antropologis dan aktual dapat dikatakan bahwa kita sebenarnya mengalami kehadiran dan karya Allah yang trinitaris secara nyata, dan secara konkret setiap hari. Kita mengalami karya khas dari Bapa. Kita mengalami karya khas dari Putra. Kita mengalami karya khas dari Roh Kudus.
·         Karya khas yang selalu diimani sebagai karya khas dari Allah Bapa ialah menciptakan. Tentu saja karya menciptakan adalah juga karya Putra dan Roh Kudus, tetapi secara manusiawi lebih dipahami sebagai karya Bapa. Kita mengalami karya penciptaan ini dalam peristiwa kelahiran, pertumbuhan, dan sebagainya.
­   Setiap kali kita mendengar tangis bayi-bayi yang baru dilahirkan dan melihat matanya yang bening, kita mengalami karya Bapa yang menciptakan. Setiap kali kita melihat tanaman-tanaman tumbuh, bunga-bunga mekar, burung-burung yang berkicau dan terbang membelah cakrawala, kita mengalami karya Bapa yang menciptakan.
­   Setiap kali kita melihat matahari terbit, bintang-bintang gemerlapan di langit, bulan purnama yang terang benderang, dan deburan ombak yang membahana, kita mengalami karya Bapa yang menciptakan.
·         Karya khas dari Allah Putra adalah menebus, memperbaiki yang rusak, dan menyembuhkan yang luka lahir batin. Setiap kali kita mengalami peristiwa penyembuhan, peristiwa pertobatan dan permaafan, peristiwa kebangkitan sesudah kejatuhan, dan peristiwa rekonsiliasi/perdamaian, kita mengalami karya Allah Putra yang menebus, yang memulihkan, dan yang memperbaiki.
·         Karya khas dari Allah Roh Kudus adalah memperbaharui, meneguhkan, dan mempersatukan. Setiap kali kita mengalami kekuatan dan keikhlasan cinta, terpulihnya pengharapan dan cita-cita, menguatnya rasa persaudaraan dan persatuan, kita mengalami karya Roh Kudus yang penuh daya untuk memperbaharui dan memperindah bumi ini.
Karya Allah yang trinitaris memang selalu kita alami dalam hidup kita. Tritunggal bukan teori, bukan rumusan, tetapi kenyataan yang melingkupi hidup kita, yang harus kita kagumi dan syukuri.
Allah seperti ada dalam diri-Nya tak dapat kita kenal. Akal budi kita tidak sanggup menggapainya. Namun, rupanya bukan itu pula yang dikehendaki oleh Allah. Allah tidak menuntut bahwa kita memahami diri dan hidup Allah dalam diri-Nya. Allah bukan teori dan rumusan yang perlu kita pahami dan kita hafal. Kita hanya dapat mengenal Allah sejauh dapat kita alami dalam karya ciptaan-Nya di alam ini dan lewat wahyu-Nya melalui Putra-Nya Yesus Kristus.
Isi dogma Allah Tritunggal bukan teori, tetapi tindakan nyata Allah. Misteri Tritunggal merupakan rangkuman seluruh karya keselamatan Allah. Isi misteri Tritunggal bukan pertama-tama mengenai hidup Allah di dalam diri-Nya, melainkan tentang karya keselamatan Allah bagi manusia. Keyakinan pokok yang terungkap di sini ialah bahwa Allah memberikan diri-Nya kepada manusia. Pemberian diri Allah itu secara sempurna dilaksanakan dalam diri Yesus Kristus, oleh Roh Kudus. Dalam surat Santo Paulus (Ef 1:3-14) dan seluruh warta Perjanjian Baru mau mengatakan bahwa Allah berkarya dalam Kristus dan oleh Roh Kudus.
Gereja perdana yakin bahwa dalam diri Kristus dan dalam Roh Kudus, karya keselamatan Allah terlaksana. Ajaran mengenai Allah Tritunggal bukanlah suatu teori yang diajarkan secara lengkap oleh Yesus Kristus atau para rasul, melainkan rangkuman karya Allah yang dilaksanakan dalam Kristus dan Roh Kudus, seperti yang dapat kita baca dalam Kitab Suci. Kitab Suci tidak menulis suatu teori tentang Allah, tetapi tentang apa yang dibuat oleh Allah bagi manusia dalam diri Yesus dan dalam Roh Kudus. Perbuatan dan tindakan penyelamatan Yesus yang dikisahkan dalam Kitab Suci bukan hanya merupakan tanda kehadiran Allah, tetapi juga suatu bentuk penampakkan Allah. Suatu wahyu Allah yang konkret. Di dalam diri Yesus, Allah mendatangi umatnya.
Ketika Yesus berkeliling Palestina untuk mewartakan Kabar baik dan berbuat baik, Allah sebenarnya mulai menampakkan diri-Nya secara nyata dan konkret kepada kita. Dalam karya Yesus, Allah menampakkan diri-Nya dan mulai merajai bumi. Karya Yesus ini dilanjutkan oleh pengikut-pengikut-Nya di bawah bimbingan Roh Kudus. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa karya dan penampakkan diri Allah dilanjutkan oleh Roh Kudus. Sampai sekarang ini Allah hadir di dalam diri kita, di dalam Gerja, dan di dalam dunia oleh Roh Kudus. Roh Kudus sebagai kehadiran Allah menggerakkan dan memperbaharui manusia.
1.      Beberapa Istilah (Terminologi) tentang Tritunggal
Bahwa kita percaya akan adanya satu Allah Tiga Pribadi, memang tidak mungkin dijelaskan. Tetapi ada beberapa istilah dalam hubungan dengan iman kita itu kiranya perlu dipahami.

a.      Arti Allah kita SATU (TUNGGAL)
Dalam syahadat dikatakan: “Aku percaya akan SATU ALLAH”. Kata “SATU” dalam konteks “SATU ALLAH” tidak persis sama dengan bilangan “satu” dalam pengertian matematika. Jika kata “SATU” dalam konteks “SATU ALLAH” dimengerti sebagai bilangan matematis, maka kita membuat kesalahan besar. Kita terjerumus untuk memasukkan Allah yang mengatasi segala-galanya hanya sekedar bilangan belaka. Seakan-akan Allah itu dapat dihitung atau dikalkulasi seperti barang-barang.
ALLAH adalah SATU, artinya Allah adalah tunggal, utuh tak terbagi, tak tercerai-beraikan, sempurna, dan tidak ada sesuatu apa pun yang perlu ditambahkan kepada-Nya. Jika satu adalah utuh, penuh, sempurna, maka Allah sama dengan satu. Dengan kata lain, Allah adalah keutuhan, kepenuhan, dan kesempurnaan.
Jadi, makna kata “SATU” dalam konteks iman akan “SATU ALLAH” menunjukkan kepada kesempurnaan Allah, keutuhan Allah, dan kepenuhan Allah.

b.      Arti TIGA PRIBADI dalam SATU ALLAH
Allah Tritunggal adalah satu dan TIGA pribadi sekaligus (Bapa, Putra, dan Roh Kudus). Bukan ada tiga Allah, yang tiga adalah PRIBADINYA-Nya. Dalam bahasa sehari-hari, kata “pribadi” dikenakan kepada manusia. Manusia adalah makhluk yang mempribadi. Hanya manusia yang merupakan makhluk ciptaan yang berpribadi dan berelasi. Artinya, hanya manusia yang dapat menyapa, mengkomunikasikan diri, bergaul, solider, dan sebagainya.
Allah adalah satu dan tiga pribadi, artinya Allah adalah Dia yang berelasi, menyapa, merangkul, menghadirkan diri, dan mengkomunikasikan diri. Relasi Allah adalah relasi kesatuan, kesempurnaan, ketunggalan, dan keutuhan dalam keilahian-Nya. Artinya, masing-masing berada dalam satu kesempurnaan ilahi yang tidak kekurangan sedikit pun. Relasi Allah Tritunggal adalah relasi sempurna, total, penuh, dan tuntas. Relasi kesatuan semacam itu hanya dapat dijelaskan kalau merupakan relasi KASIH. Jadi, tiga pribadi Allah yang relasional adalah Allah yang saling mengasihi, yang saling mencintai secara penuh, total, selesai dan sempurna. Misteri Allah Tritunggal, dengan demikian adalah misteri ALLAH YANG MENGASIHI.

2.      Doa-Doa dan Ibadat yang Mengungkapkan Iman Kita kepada Tritunggal
a.      Tanda Salib: “Demi Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus”
·         Sebagai peringatan akan Yesus yang mati di salib sebagai Juruselamat manusia.
·         Sebagai tanda karya penyelamatan dan penebusan yang mendamaikan alam semesta, memberi hidup, dan mengalahkan yang jahat. Menurut keyakinan Kristiani, karya keselamatan dan penebusan berpangkal pada Allah dan dilaksanakan oleh Allah, yakni oleh Allah Tritunggal, yaitu Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
·         Menandai dirinya dengan salib sambil menyerukan nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, kita menempatkan diri kita seluruhnya di bawah naungan salib Yesus yang mendapat kekuatan untuk mengalahkan dosa dan mengantar manusia kepada Allah Bapa, melalui Putra dalam Roh Kudus.

b.      Doa “Kemuliaan/Gloria”
·         Jika kita mendoakan/menyanyikan “Kemuliaan/Gloria”, kita ingat akan semua yang dilakukan Allah bagi kita. Walaupun kita katakan “Kemuliaan kepada Allah di Surga”, kita tahu bahwa Allah telah turun dari surga untuk keselamatan kita dan untuk mengangkat kita ke surga. Oleh karena itu, kita memuji-Nya dengan iman dan cinta kasih.
·         Jika kita mendoakan/menyanyikan “Kemuliaan/Gloria”, memuji Putra Allah yang setara dengan Bapa, yang menghapus dosa dunia, dan yang menebus kita.
·         Dalam doa: “Kemuliaan kepada Bapa, Putra, dan Roh Kudus. …” kita memuliakan Allah Tritunggal dan Kristus Penebus kita yang mewahyukan Bapa bersama dengan Roh Kudus.





c.       Syahadat/Credo
·         Syahadat sesungguhnya merupakan pengakuan Iman akan Allah Tritunggal.
·         Syahadat/Credo merupakan ringkasan seluruh sejarah suci mulai dari penciptaan, penjelmaan, kebangkitan, kedatangan Roh Kudus, misteri Gereja, sakramen-sakramen, sampai dengan kehidupan kekal. Setiap kali kita mengucapkan/mendoakan “Syahadat/Credo”, kita mengenangkan seluruh sejarah keselamatan. Sejarah keselamatan adalah sejarah keselamatan yang berasal dari Bapa, terlaksana oleh Putra, dan dilanjutkan oleh Roh Kudus di dalam Gereja sampai pada akhir zaman.

d.      Doxologi
·         Doxologi artinya doa pujian. Ciri khas doxologi dalam liturgi Ekaristi adalah susunannya yang triniter. Artinya, Allah Tritunggal Mahakudus yang menjadi isi/inti doa tersebut.
·         Pada akhir doa Syukur Agung didoakan doxologi: “Dengan Perantaraan Kristus, bersama Dia dan dalam Dia, bagiMu Allah Bapa yang Mahakuasa, dalam persekutuan dengan Roh Kudus, segala hormat dan kemuliaan, sepanjang segala masa.” Amin.

e.       Pembaptisan
Pembaptisan orang Kristiani memakai rumusan Trinitaris. Pada waktu membaptis, Imam (Romo) mengucapkan: “Aku membaptis kamu, dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus.” Dengan pembaptisan itu, orang yang dibaptis dipanggil untuk mengambil bagian dalam kehidupan Tritunggal Mahakudus.

No comments:

Post a Comment